Kamis, 04 Agustus 2011

BENTENG MORAYA Tondano 1801

Sejarah Garis Waktu

Disusun oleh: Roderick C. Wahr
1801
Tondano thn 1679
Tondano pada tahun 1679
Pada tahun 1801, ada kapal perang yang menembaki benteng Belanda di Manado. Setelah diselidiki ternyata kapal perang tersebut milik Inggris. Mengetahui ada konflik antara Belanda dan Inggris maka para Walak Minahasa meminta bantuan Inggris untuk mengusir Belanda. Dalam upaya mengusir Belanda, Gerrit Wuisang membeli senapan, mesiu, dan meriam dari Inggris.
Ketika Residen Dur digantikan oleh Residen Prediger, maka orang Tondano mulai menyiapkan diri untuk berperang melawan belanda. Dipimpin oleh Tewu (Touliang) dan Ma’alengen (Toulimambot), orang Tondano merasa yakin bahwa pemukiman mereka diatas air di muara tepi danau sulit diserang Belanda, tidak seperti pemukiman walak-walak Minahasa lainnya.
1806
Benteng Moraya di Minawanua mulai diperkuat dengan pertahanan parit di darat dan pasukan dengan kekuatan 2000 perahu di tepi danau. Pemimpin Tondano mengikat perjanjian denga walak-walak Tombulu, Tonsea, Tontemboan, dan Pasan-Ratahan untuk mengirmkan pasukan dan bahan makanan. Pemimpin walak Minahasa lainnya yang membantu antara lain : Andries Lintong (Likupang), Umboh atau Ombuk dan Rondonuwu (Kalabat) Manopo dan Sambuaga (Tomohon), Gerrit Opatia (Bantik), Poluwakan (Tanawangko), Tuyu (Kawangkoan), Walewangko (Sonder), Keincem (Kiawa), Talumepa (Rumoong), Manampiring (Tombasian), Kalito (Manado), Kalalo (Kakas), Mokolengsang (Ratahan) sementara pemimpin pasukan Tondano pada awal peperangan adalah Kilapog, Sarapung dan Korengkeng.
1808
Pada bulan Mei 1808, Minahasa sudah melarang Belanda pergi ke pegunungan, tapi pada tangal 6 Oktober, Belanda membawa pasukan besar yang terdiri dari serdadu dari Gorontalo, Sangihe, Tidore, Ternate, Jawa, dan Ambon dan mendirikan tenda-tenda di Tata´aran. Pada tanggal 23 Oktober, Belanda mulai menembaki benteng Moraya Tondano dengan meriam 6 pond. Namun, mereka tidak menyangka bahwa akan ada perlawanan dari pihak Tondano. Bahkan, tenda-tenda Belanda di Tata´aran mendapat kejutan setelah pasukan berani mati pimpinan Rumapar, Walalangi, Walintukan dan Rumambi menyerang di tengah malam. Pada bulan November, pimpinan utama Belanda Prediger terluka kepalanya akibat terkena tembakan di Tata´aran. Dia kemudian digantikan wakilnya Letnan J. Herder. Perang kemudian bertambah panas yang kemudian ditandai dengan perang darat dan perahu.
1809
Click to enlarge
Kapal Kora-Kora
Pemimpin tondano mendatangkan perahu Kora-Kora dengan memotong logistik bahan makanan dari Kakas ke Tondano. Pada tangal 14 April, pasukan Jacob Korompis menyerang tenda-tenda Belanda di Koya. Serangan yang dilakukan malam hari itu, JACOB berhasil merebut amunisi dan senjata milik Belanda.
Tanggal 2 Juni Belanda melakukan perjanjian dengan kepala-kepala wala Minahsa lainnya. Kemudian pasukan –pasukan yang bukan orang Tondano muali meninggglakan Benteng Moraya karena bahan makanan muali berkurang. Dan yang tertinggal adalah pasukan dari Tomohon dan Kalabat.
Setelah Benteng Moraya jadi sunyi, sudah tidak terdengar lagi teriakan-teriakan perang dan bunyi–bunyi letusan senjata. Lalu pada suatu malam, Belanda menyerang Benteng itu dan membakar rata dengan tanah. Serangan itu dilakukan pada malam hari tanggal 4 Agustus dan pagi 5 Agustus. Dalam penyerangan tersebut, Belanda kemudian membumi hanguskan Benteng Morya Tondano. Pimpinan utama dari perang di Tondano adalah Tewu (Touliang), Lontho (Kamasi-Tomohon), Mamahit (Remboken), Matulandi (Telap) dan Theodorus Lumingkewas (Touliang). Mereka adalah kepala-kepala walak yang disebut “Mayoor” atau Tona’as perang.
1817
Pemberontak di Ambon memberontak terhadap kembalinya Belanda. Dibawah pimpinan Thomas Matulessy, yang juga dipanggil Pattimura, benteng Belanda di Saparua diambil. Dengan bala bantuan dari Batavia, benteng tersebut diambil kembali dan Matulessy dihukum mati.
Manado School Diploma, 1921
Ijazah Sekolah Manado, 1921
1825-1830
Perang Jawa. Minahasa bertarung disisi Belanda dalam perang ini. Juga di bagian kepulauan lain untuk menundukkan pemberontakan.
1820
Sebuah kelompok Calvinist, Masyarakat Misionaris Belanda, beralih dari sebuah kepentingan khusus di Maluku ke daerah Minahasa.
Dengan adanya misionaris, datang misi sekolah, yang berarti bahwa, seperti di Ambon dan Roti, pendidikan Barat di Minahasa dimulai jauh lebih awal dibanding bagian lain di Indonesia.
Sekolah-sekolah tersebut diajar dalam bahasa Belanda.
1830
Pangeran Jawa dan pahlawan Indonesia Diponegoro diasingkan ke Manado oleh Belanda.
ca 1850
Di Minahasa kewajiban untuk membuat perkebunan yang menghasilkan panen besar kopi murah untuk monopoli Belanda. Orang-orang Minahasa menderita dibawah "kemajuan" ini, bagaimanapun, ekonomi, agama dan hubungan sosial dengan penjajah terus bertambah.
1860
Konversi besar-besaran orang Minahasa ke agama Kristen, yang dilakukan oleh pihak Belanda, hampir komplit.
1881
Sekolah-sekolah misionaris di Manado adalah jerih payah pertama dari pendidikan masal di Indonesia dan tamatannya mendapat keuntungan yang lumayan dalam memperoleh posisi di pelayanan pemerintah, militer dan posisi penting lainnya.
1881
F. 's-Jacob (1822-1901) ditunjuk sebagai Gubernur Genera. Di Minahasa kepala-kepala lokal memasuki jawatan pemerintah.
Japanese Paras in Manado, 1945
Pasukan Parasut Jepang
di Manado, 1945
1889
Emas ditemukan di Sulawesi Utara. Pemerintah bereaksi dengan menunjuk langsung pemerintahan di Gorantalo dan menutup perjanjian-perjanjian dengan kerajaan lokal.
1945
Click to enlarge
Dr. G.S.S.J.
Ratulangi

Sekutu megebom Manado dengan berat. Selama perang kemerdekaan melawan kembalinya Belanda yang berikut, ada perpecahan berat antara kelompok yang pro-Indonesia dan yang lebih berpihak kepada federalisme yang disponsor oleh Belanda.
Penunjukan seorang Manado yang beragama Kristen, Sam Ratulangi, sebagai gubernur republik Indonesia timur yang pertama, menenentukan kemenangan dukungan Minahasa untuk republik.
1956
Eksport ilegal tumbuh dengan subur. Pada bulan Juni Jakarta memerintahkan penutupan pelabuhan Manado, pelabuhan penyelundupan yang paling sibuk di republik. Pemimpin lokal menolak hal tersebut dan Jakarta mundur.
February1957
Soekarno mengumumkan bahwa lebih baik melaksanakan sistem "demokrasi pemerintah", eufinisme untuk sebuah pemerintahan yang otokratis.
March 1957
Pemimpin militer baik Sulawesi Selatan maupun Utara mengadakan sebuah konfrontasi terhadap pemerintah pusat, dengan tuntutan otonomi daerah yang lebih besar. Mereka menuntut pembangunan lokal yang lebih banyak, pembagian pendapatan yang lebih adil, menolong dalam menekan pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, dan sebuah kabinet pemerintahan pusat bersama yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta. Paling tidak awalnya pemberontakan "Permesta" (Piagam Perjuangan Semesta Alam) adalah sebuah reformis daripada sebuah gerakan separatis.
June 1957
Pemimpin Sulawesi Utara merasa tidak puas dengan perjanjian dan perpecahan gerakan Permesta. Diilhami, barangkali, oleh ketakutan akan dikuasai oleh pihak selatan, pemimpin memberikan pernyataan negara otonomi mereka sendiri dari Sulawesi Utara.
Lalu Soekarno menunjuk sebuah kabinet kerja dibawah komando R.H. Djuanda (1911-1963). Dia juga menunjuk sebuah "Dewan Nasional" yang terdiri dari beberapa "kelompok fungsionil".
October 1957
Setelah sebuah boikot pada bulan Desember, pemilik dari hampir 250 perusahaan Belanda dinasionalisasikan dan diumumkan bahwa 46.000 orang warga negara Belanda harus meninggalkan negara. Perwira TNI diangkat sebagai manajer dan direktur dari perusaan Belanda yang dicaplok.
1958
Selama perjalanan Soekarno kesejumlah negara Asia (Februari) pemberontak-pemberontak di Bukittingi (Sumatra-Barat) PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), dibawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) memberontak. Walaupun pemberontakan tersebut tidak bermaksud untuk memisahkan diri dari Indonesia, Sukarno tidak ragu-ragu untuk membabat gerakan tersebut pada waktu kepulangannya. Kemungkinan campur tangan dari pihak luar akhirnya menggerakkan pemerintah pusat untuk mencari bantuan militer dari Sulawesi Selatan.
Angkatan perang Permesta diantar dari Sulawesi Tengah, Gorontalo, Kepulauan Sangihe dan dari Morotai di Maluku (dari lapangan terbang masing-masing, pemberontak sudah berharap untuk terbang serangan pengeboman ke Jakarta). Beberapa pesawat pemberontak tersebut (disediakan oleh Amerika dan diterbangkan oleh pilot-polot Filipina, Taiwan dan Amerika) dimusnahkan. US policy shifted, favoring Jakarta.
Angkatan udara mengebom kota-kota di daerah pemberontak (Padang, Bukittingi, Manado) dan tentara menaklukkan Medan dan kemudian Padang.
June 1958
Tentara pemerintah pusat mendarat di Sulawesi Utara dan menawan Manado. Namun gerak-gerik tersebut bahaya untuk Jakarta, karena di Ambom pemberontak mendapat bentuk bantuan dari Amerika dan Belanda. Juga Filipina, Cina Nasionalis (Taiwan) dan Malaysia yang mendukung pemberontakan.
Jenderal Nasution merumuskan teori "dwifungsi" (fungsi ganda), dimana tentara, selain menjadi tenaga perjuangan, juga menjadi organisasi sosial dalam pelayanan perkembangan sosial negara.
1959
Kekuasaan pusat ditingkatkan di biaya otonomi lokal, nasionalisme radikal memperoleh sikap moderat yang pragmatis, kekuatan komunis dan Soekarno bertambah sedangkan Hatta menyusut, dan Soekarno mampu memperlihatkan "Panduan Demokrasi"nya.
mid 1961
Pemberontakan Permesta akhirnya dipadamkan.
1967
Sulawesi Utara menjadi makmur dibawah Pemerintahan Orde Baru dari Presiden Soeharto, yang telah mengambil alih kantor.
Banyak laporan ekonomi (tetapi sedikit perbaikan politik) yang dicari oleh pemberontak Permesta tercapai. Propinsi tersebut memiliki kebudayaan yang toleran dan memandang keluar.
Masa depan akan memperlihatkan apa yang akan terjadi setelah pelaksanaan Otonomi Daerah, gagasan yang sangat diperjuangkan oleh Permesta.

Daftar Buku tentang Minahasa

Yranzo OFM, Pater Juan
Verslag over den voortgang de Missie in Manado 1635-1645   
Manila, 4 Augustus 1645
Laporan tentang kemajuan Misi di Manado 1635-1645
Pieter Bleeker
Reis door de Minahassa en den Molukschen archipel - 2 jilid.
Batavia, Lange, 1856
Perjalanan di Minahasa dan archipelago Maluku
Kata kunci: observasi pribadi, perjalanan, agraris, geografi fysik, anthropologi kultural dan sosial, maluku, indonesia
N.P. Wilken
Bijdragen tot de kennis van de zeden en gewoonten der Alfoeren in de Minahassa
MNZG 7, 1863
Sebuah presentasi tentang kebiasaan-kebiasaan pribumi Minahasa pada masa itu. Tulisan ini penuh dengan deskripsi etnografis sekitar berbagai pandangan dan tata-cara hidup, termasuk kehidupan keagamaan, khususnya di wilayah Tombulu, sampai pada cerita-cerita fabel dan uraian asal-usul dan arti sejumlah nama tempat (negerijen). Misalnya nama Tataaran berasal dari kata “tumaar” (beloven=berjanji) sampai menjadi “tataaran” (de plaats van belofte=tempat terjadi satu perjanjian). Alkisah pada zaman dulu orang Tondano dan orang Tombulu sepakat untuk menjadikan tempat ini (negerij) sebagai tempat transaksi atau baku-tukar barang (ruilhandel). Berdasarkan perjanjian ini maka tempat tersebut mendapat nama Tataaran.
N.P. Wilken
Bijdragen tot de kennis der Alfoersche taal in de Minahasa
Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1866
Memberi perhatian pada bahasa Tombulu. Setelah mencatat sejumlah cerita rakyat dan teka-teki dalam bahasa Tombulu, Wilken menguraikan dalam buku ini tata-bahasa Tombulu, termasuk mengenai bunyi, pembentukan kata, kata kerja dan seterusnya.
Padtbrugge, Robertus
Het Journaal van Padtbrugge's reis naar Noord Celebes 16 Augustus - 23 December 1677   
bijd.1867
Jurnal perjalanan Padtbrugge ke Sulawesi Utara 16 Augustus - 23 Desember 1677
L. Mangindaan
Oud Tondano
1871
Tondano Lama
N. Graafland
De Minahasa. Haar verleden en tegenwoordige toestand - dua jilid
Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1867
Sebuah laporan perjalanan pribadi ke berbagai pelosok tanah Minahasa yang menyentuh berbagai aspek kehidupan pada masa Graafland sendiri sedang bekerja sebagai tenaga misionaris (zendeling) NZG (Nederlandsche Zendelinggenootschap) di sana.).
Sydney J. Hickson
A naturalist in north Celebes : a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut islands, with notices of the fauna, flora and ethnology of the districts visited - 392 h.
London, Murray, 1889
Seorang naturalist di Sulawesi : cerita tentang perjalanan di Minahasa, kepulauan Sangir dan Talaud, dengan catatan ttg fauna, flora dan ethnologi wilayah yang di kungung
Kata kunci: observasi pribadi, transport maritime, fauna, flora, adat dan kebiasaan, sulawesi, indonesia
Wawuruntu, A L
De Oude Geschiedenis der Minahasa   
1891
Sejarah Lama Minahasa
Kol, Hubert van
Uit Onze Kolonien, een Schakelstuk   
1903
Dari Koloni Kami, salah satu Sambungan
J.A.T. Schwarz
Tontemboansche Teksten - 3 jilid
Leiden: Brill, 1907
Jilid pertama adalah kumpulan cerita-cerita rakyat yang dikumpulkan Schwarz dan semuanya dalam bahasa Tontemboan. Seluruhnya ada 141 cerita. Temanya bermacam-macam, mulai dari fabel, mitos kelahiran desa, kisah asal-usul nama, sampai pada legenda dan mitos tentang dewa-dewi serta doa-doa.
Jilid kedua merupakan terjemahan bahasa Belanda dari jilid pertama ditambah dengan interpretasi pribadi oleh Schwarz sendiri.
Jilid ketiga berisi catatan-catatan linguistik dan ethnografik terhadap naskah-naskah cerita itu.
J.A.T. Schwarz adalah salah satu misionaris NZG yang pernah bertugas di Sonder. Ayahnya, J.G. Schwarz, adalah misionaris pelopor yang lama bekerja di Langowan, yang tiba di Minahasa pada tahun 1831 bersama dengan J.F. Riedel, juga misionaris pelopor yang mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya, bahkan hingga wafat, di Tondano.
J.A.T. Schwarz
Tontemboansch-Nederlandsch woordenboek met Nederlandsch-Tontemboansch register
Leiden: Brill, 1908
Kamus Bhs Tontemboan-Bhs Belanda dengan register Bhs Belanda-Bhs Tontemboan
J.E. Jasper
De Bantiks : een oude volksstam in de Minahassa - 22 h.
s.n., [S.l.], 1909
Bantik : suku tua di Minahasa
Kata kunci: mytos, adat dan kebiasaan, kelompok-kelompok etnik dan bangsa, sulawesi, indonesia
J.E. Jasper
Eenige onderwerpen, betrekking hebbende op de Minahassa - 10 p.
Kolff, Batavia, 1913
Beberapa perihal tentang Minahasa
Kata kunci: milik tanah, hak tanah, adat dan tradisi, sulawesi, indonesia
A.L. Wawo-Runtu
Rede uitgesproken op 18 december 1915 bij gelegenheid der algemeene vergadering der "Perserikatan Minahasa" - 8 h
[S.l., s.n.], 1915
Pidato disembahkan pada 18 December 1915 pada kesempatan pertemuan umum "Perserikatan Minahasa"
Kata kunci: biografi, pendidikan, belanda, indonesia
A.L. Wawo-Runtu
De Minahasa en het Minahasavolk 1679-1917 - 15 h
De Bussy, Amsterdam, 1918
Minahasa dan bangsa Minahasa 1679-1917
Kata kunci: kerja paksa, pajak, perkembangan, kolonialisasi, sulawesi, indonesia
S. Pangemanan cs.
Keradjinan Orang Minahasa   
Batavia: Landsdrukkerij. 1919
Tentang Kerajinan Orang Minahasa.
J.W. Gunning
De protestantsche zending in de Minahasa
BKI 80, 1924
Missie Protestan di Minahasa
A.J. van Aernsbergen
Serie Uit en over de Minahasa - De Katholieke kerk en hare missie in de Minahasa
BKI 81, 1925
Seri Dari dan tentang Minahasa - Gereja Katolik dan missinya di Minahasa
N. Adriani
Serie Uit en over de Minahasa - De Minahasische talen
BKI 81, 1925
Seri Dari dan tentang Minahasa - Bahasa-bahasa Minahasa
Afdeeling landbouw, Departement van landbouw, nijverheid en handel
Perkeboenan kelapa boemi poetera ditanah Minahassa - 28 h.
Weltevreden, Landsdrukkerij, 1925
Kata kunci: pohon kelapa, perkebunan kecil, manasemen hasil bumi, sulawesi, indonesia
E.C. Godeè Molsbergen
Geschiedenis van de Minahassa tot 1829
Weltevreden: Landdrukkerij, 1928
Sejarah Minahasa sampai 1829.
Sam Weleij
Tontemboansch namen register enz. : winèrotan i ngaran e nimangäpo' in dior, karapi im paroro'on i iitoe - 100 h.
Liem Oei Tiong, Manado, 1928
Daftar nama Tontemboan dll..
Cornelis Tjepko Bertling
Grondbezit in de Minahasa - 18 h.
Kolff, Weltevreden, 1928
Memilik Tanah di Minahasa
C.T. Bertling
Echtscheiding cijfers der Christen-inlanders in de Minahasa - 190-233 h
Kolff, Weltevreden, 1929
Statistik Perceraian penduduk Kristen di Minahasa
Hersevien M Taulu
Bintang Minahasa (pingkan mogogoenoij) - 129 p
Balai poestaka, Batavia, 1931 - Seri Balai poestaka; 933
C.T. Bertling
De Minahasische Waruga en Hockerbestattung
NION vol XVI,1931
Waruga Minahasa dan Pemakaman Banku tak Bersandaran
G.S.S.J. Ratu Langie
De Kelakerangronden in de Minahassa - 18 h.
Persatoean Minahasa, Batavia, 1933
Kata kunci: pemerintahan lokal, administrasi umum, hukum adat, hukum-humum dan peraturan, sulawesi, indonesia
M.R. Dajoh
Pahlawan Minahasa - 103 h
Balai poestaka, Batavia, 1935
J.G.Ch. Sahelangi
Ringkasan Hikajat Tanah Bangsa Minahasa Purbakala
Makassar: Pertjetakan Makassar, 1950
Hikajat Bangsa Bentenan jang menduduki bahagian tenggara tanah Minahasa
H.M. Taulu
Adat dan Hukum Adat Minahasa
Tomohon, 1952
J.F. Malonda
Membuka tudung dinamika filsafat-purba Minahasa
Manado: Jajasan Badan Budaja Wongker-Werun, 1952
Hetty Palm
Ancient art of the Minahasa - 59 p
Publisher:Bandung, Masa-Baru, 1958
Kesenian purbakala Minahasa
F.S. Watuseke
Sejarah Minahasa
1961 / 1968
Buku ini secara singkat tapi padat mendaftarkan secara kronologis peristiwa-peristiwa yang terjadi di Minahasa mulai dari “zaman purba” sampai dengan tahun 1954, yaitu ketika Bitung dijadikan pelabuhan samudra. Yang sangat menarik dari buku ini – khususnya dalam edisi ke-2 yang terbit 1968 – adalah lampiran-lampirannya, yang di antaranya mendaftarkan perjalanan sejarah pembagian tanah Minahasa dalam walak-walak dan kemudian dalam distrik-distrik sejak kira-kira tahun 1679 sampai 1966.
E.V. Adam
Kesusasteraan, Kebudajaan dan Tjerita-tjerita Peninggalan Minahasa
Manado: Pertjetakan Negara, 1967
Buku kecil ini lebih merupakan kapita selecta mengenai kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan tua serta aturan-aturan tata-krama di Minahasa tempo dulu. Ada juga pantun-pantun dan “keahlian” mendengarkan bahasa burung.
Kurt Tauchmann
Die Religion der Minahasa-Stämme (Nordost-Celebes/Sulawesi).
1968
Agama bangsa Minahasa (Sulawesi Timur-Laut/Sulawesi)
Seorang peneliti Jerman, dipromosi doktor di Universitas Köln dengan disertasi ini. Barangkali inilah disertasi pertama tentang Minahasa yang ditulis dalam bahasa Jerman. Melalui studinya ini Kurt Tauchmann coba merekonstruksi agama dan kepercayaan asli suku-suku di Minahasa dari masa pra-pengaruh Eropa. Buku ini terdiri dari enam bab, masing-masing membahas kosmologi, kepercayanaan dan ajaran tentang dewa-dewa, gambaran dan konsepsi mengenai jiwa, kepemimpinan agama, perilaku keagamaan, dan terakhir mengenai sistem agama Minahasa. Studi ini sangatlah komprehensif dengan tetap menjaga kepelbagaian di antara suku-suku di Minahasa itu sendiri. Yang menarik, Tauchmann menyebut Minahasa sebagai “Mythenmuseum”. Di wilayah Indonesia bagian Timur, katanya, tidak ada daerah lain di mana ditemukan aneka ragam mitos yang bersaing seperti di Minahasa.
F.S. Watuseke
Oude gebruiken bij zwangerschap en geboorte in Tondano
BKI 126, 1970
Sesuai judulnya, tulisan ini berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan tua di sekitar kehamilan dan kelahiran di Tondano, di mana dijelaskan, misalnya, apa artinya si maali-ali dan si matimea’ sampai pada nama dan jenis berbagai macam rempah-rempah yang diperlukan oleh seorang ibu untuk mandi setelah melahirkan (seperti Karimenga, Kajutumetow, Muntè pepontolen, dst.). Juga tidak ketinggalan di bagian akhir tulisannya adalah sebuah gambar tentang bagaimana tampaknya buaian bayi asli setempat.
F.S. Watuseke
Majalah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indië (yang biasa disingkat BKI)
KITLV di Negeri Belanda
Bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Beberapa tulisannya diterbitkan di majalah ini
H. Kroeskamp
Early Schoolmasters in Developing Country: A history of experiments in school education in 19th century Indonesia
Assen: Van Gorcum & Comp. B.V., 1973
Dokumentasi dan analisis mengenai sekolah guru yang didirikan dan dikelola oleh Graafland. Graafland adalah pendiri sekolah guru di Minahasa, yang mula-mula didirikan di Sonder pada tahun 1851 dan yang tiga tahun kemudian dipindahkan ke Tanawangko. Tema pendidikan di Minahasa dan keberadaan sekolah guru, serta pengaruhnya terhadap masyarakat Minahasa. Di Tanawangko Graafland juga mulai menerbitkan surat kabar pertama Minahasa (berbahasa Melayu), “Tjahaja Siang”
L. Adam
Pemerintahan di Minahasa
Jakarta: Bhratara, 1975
Terjemahan dari BKI dengan kata pengantar oleh F.S. Watuseke
L. Adam
Adat Istiadat Sukubangsa Minahasa
Jakarta: Bhratara, 1976
Terjemahan dari BKI dengan kata pengantar oleh G.M.A. Inkiriwang.
Adrian Bernard Lapian
Holy warriors from the sea : (the raid on Manado of 1875) - 25 p
Leiden, Bureau Indonesische studiën, 1976 Prajurit Suci diri Laut (penyerangan Manado pada 1875)
C.I.J. Sluijk
Tekeningen op grafstenen uit de Minahasa
1976
Gambar-gambar die waruga Minahasa
N.S. Kalangi
Orang Minahasa. Beberapa Aspek Kemasyarakatan dan Kebudayaan
Peninjau 4, 1977.
Vincent O.L
Seri Mapalus. Koleksi Warisan Nenek Moyang
Jakarta: Yayasan Mapalus
Buletin dari tahun 1977
Maria J.C. Schouten
De veranderde positie van het Walakhoofd in de Minahasa gedurende de 19e eeuw : ukung, volkshoofd, ambtenaar - 114 h.
Amsterdam, Vrije universiteit, 1978
Perubahan posisi kepala Walak di Minahasa pada abad ke-19
Boéng Dotulong; Fransz-Rompis, Diana; Kaliey, Ruud; Lumenta, Nol
Minahasa - 44 h
[S.l., s.n.], 1980
Kata kunci: geografi wilayah, sulawesi, indonesia
Mieke Schouten
Minahasa and Bolaangmongondow: an annotated bibliography 1800-1942
The Hague: Martinus Nijhoff, 1981
Minahasa dan Bolaangmongondow: kepustakaan dengan catatan 1800-1942
788 Entri tulisan mengenai Minahasa yang masih terdokumentasi dan naskahnya tersimpan di berbagai perpustakaan dan pusat arsip di Negeri Belanda
N.S. Kalangi
Kebudayaan Minahasa - Koentjaraningrat ed., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia
Jakarta: Didjaskara, 1981
Willem H. Makaliwe
A preliminary note on genealogy and intermarriage in the Minahasa regency, North Sulawesi
BKI 137, 1981
Catatan semula tentang genealogi dan pernikahan campuran di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara.
Wil Lundström-Burghoorn
Minahasa Civilization: A Tradition of Change
Göteborg: Acta Universitatis Gothoburgensis, 1981
Disertasi mengenai Minahasa yang dipertahankan di Göteborg, Swedia. Satu studi anthropologis mengenai kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat di Minahasa, termasuk kajian mengenai sistem kekerabatan dan rites de passage mulai dari kelahiran sampai kematian seseorang.
Watuseke, F. S.; Watuseke-Politton, W. B.
Het Minahasa- of Manado-Maleis. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, 324-346.   
1981
Bahasa Malayu-Minahasa atau Malayu-Manado. Contribution to de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, 324-346.
M.J.C. Schouten
De betovering van de kruidnagel in de Minahasa   
Orion December: 16-18 Haia. - 1985
Keajaiban cengkeh di Minahasa
M.J.C. Schouten
Kruidnagel, brenger van een broze welvaart?   
Mededelingen Vrienden Unsrat-Wenang 1/2: 9-11 Amsterdam. - 1985
Cengkeh, pembawa kekayaan ringkih?
Richard A.D. Siwu
Adat, Gospel and Pancasila: A Study of the Minahasan Culture and Christianity in the Frame of Modernization in Indonesian Society
Tesis D.Min, Lexington Theological Seminary, 1985
Adat, kitab injil dan Pancasila: Pelajaran Kebudayaan Minahasa dan keagamaan Kristen dalam rangka Modernisasi Masyarakat Indonesia.
A.E. Wahongan-K
Peranan Wanita dalam Pembangunan dan Kaitannya dengan Lembaga Mapalus
Tesis Master, Institut Pertanian Bogor, 1986
Bert Supit
Minahasa: Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua
Jakarta: Sinar Harapan, 1986
(Catatan: Bert Supit penulis buku ini tidak identik dengan dokter Bert A. Supit di Tomohon. Bert Supit ini adalah bekas perwira TNI-AD dan termasuk salah seorang pemrakarsa berdirinya Perguruan Tinggi Manado, yang kemudian menjadi Universitas Sam Ratulangi, dan sekarang tinggal di Jakarta).
Buku karangan Bert Supit bisa dikategorikan sebagai buku kajian sejarah Minahasa. Salah satu acuan utama yang digunakan oleh Bert Supit adalah bukunya E.C. Godeè Molsbergen. Bahkan kutipan lengkap naskah-naskah perjanjian antara orang Belanda dan orang Minahasa pada tahun 1679, 1699 dan 1790 selengkapnya diambil dari buku tersebut. Tetapi itu tidak berarti Bert Supit tidak berlaku kritis terhadap buku tersebut. Melalui bukunya ini Bert Supit malah menunjukkan gejolak-gejolak perlawanan terhadap Belanda yang pernah terjadi dalam sejarah Minahasa, terutama dengan terjadinya Perang Tondano.
Ulrich Mai; Helmut Buchholt
Peasant pedlars and professional traders : subsistence trade in rural markets of Minahasa, Indonesia - 155 p
Institute of Southeast Asian studies, Singapore, 1987
Tukang penjualan dan pedagang professional : dagang di pasar pedesaan Minahasa, Indonesia
Yoost Kullit
Minahasa: Masa Lalu dan Masa Kini
Jakarta: Lembaga Perpustakaan Dokumentasi & Informasi, 1987
Terjemahan De Minahasa. Haar verleden en tegenwoordige toestand
M.J.C. Schouten
Village administration in Minahasa   
Amsterdam: Free University Pres 1987
Administrasi desa di Minahasa
M.J.C. Schouten
Koppensnellen in de Minahasa, in het verleden en in het heden   
Manguni 1/2: 19-21 Enschede. 1987
Pemburuan kepala di Minahasa, masa lalu dan sekarang
M.J.C. Schouten
Myth and reality in Minahasan history: The Waworuntu-Gallois confrontation - Archipel; Etudes interdisciplinaires sur le monde insulindien 34: 119-141.   
Ecole des Hautes Etudes Sciences Sociales 1987
Mitos dan realitas di sejarah Minahasa: Konfrontasi Waworuntu-Gallois
M.J.C. Schouten
Legitimasi sementara: pemerintahan desa di Minahasa   
Jakarta: Gramedia. 1988
Philip Quarles van Ufford
Kepemimpinan lokal dan implementasi program. Pp. 79-108   
Jakarta: Gramedia. 1988
M.J.C. Schouten
The Minahasans: eternal rivalry   
Meppel: Edu Aktief 1988
Orang Minahasa: Persaingan abadi
Helmut Buchholt
Kirche, Kopra und Bürokraten: Gesellschaftliche Entwicklung und strategisches Handeln in Nord Sulawesi / Indonesien
Saabrücken: Verlag Breitenbach, 1990
Buchholt sendiri adalah orang Jerman. Buku ini aslinya adalah disertasi. Promosi doktornya di Universitas Bielefeld. Judulnya memang unik, karena mengkombinasikan gereja, kopra dan kaum birokrat. Mengikuti pendekatan sosiologi pembangunan dalam kerangka konsep strategische Gruppen, Buchholt meneliti peran sentral orang dan daerah Minahasa dalam membangun wilayah Sulawesi Utara, terutama sejak era politik kolonial Hindia-Belanda dengan proses transformasi ekonominya sampai pada era pemerintahan Orde Baru dengan birokratisasinya.
Richard Leirissa
PRRI/Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis
Jakarta: Grafitipres, 1990
Penulis adalah dekan Fakultas Sejarah UI. Di bagian introduksi buku yang dieditnya ini, Reimar Schefold antara lain menulis: “The various contributions give voice to a new interest in the culture of Minahasa, which after a long period of considerable silence has been gradually re-emerging in recent years.” Bagaikan hembusan angin segar mendengar lahirnya minat baru terhadap budaya Minahasa ini.
Laurens Hendrik Paat
Die theologisch-ökumenesischen Partnerschaftsgrundgedanken der Kirchen Indonesiens : am Beispiel der evangelischen Kirche in der Minahasa - 252 p
Frankfurt am Main [etc.], 1991 - Series: Europäische Hochschulschriften. Reihe 23: Theologie; 429
Dasar Pekerjaan Sama Theologis Oecumenis Gereja-gereja Indonesia; Gereja Evangelis di Minahasa
Kata kunci: gerakan oecumenis, theologis, gereja protestant, sulawesi, indonesia
Lucy R. Montolalu
Minahasa: Negeri, Rakyat dan Budayanya
Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991
Terjemahan De Minahasa. Haar verleden en tegenwoordige toestand
Helmut F. Weber
Wer fleißig ist, der kann es schaffen : vom Modernisierungsmythos in der ländlichen Minahasa, seinen Ursprüngen und Folgen - 270 h
Eberhard, München, 1993
Yang rajin, bisa berhasil : dari mythos Modernisasi di Minahasa, asal dan akhibatnya
Kata kunci: penelitian sosial, pembangunan regional, kondisi pedesaan, perubahan sosial, psychologi sosial, mobilitas sosial, sulawesi, indonesia
David E.F. Henley
Nationalism and regionalism in colonial Indonesia : the case of Minahasa - 91-112 p
1993
Nasionalisme dan regionalisme di koloni Indonesia : kasus Minahasa
Kata kunci: regionalisme, nasionalisme, ethnopsychologi, kolonialisme, sulawesi, indonesia
K.A. Kapahang-Kaunang
Perempuan: Pemahaman Teologis tentang Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
Semulanya adalah tesis M.Th. yang diselesaikan di UKIT Tomohon pada tahun 1989.
Mangundap, M A, Pastor Agus cs
125 Tahun Gereja Keuskupan Manado   
1993
Kata Kunci: Gereja
Louise Gandhi-Lapian
Harmonisasi Hukum tentang Sahnya Perkawinan Kristen dan Hubungannya dengan Harta Benda Perkawinan: Suatu Penelitian Lapangan di ‘Rondor’ Kawangkoan Minahasa
Disertasi Ph.D. Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
Penulis adalah dosen pada Fakultas Hukum UI yang pada tahun 1993 meraih gelar doktor.
Mieke Schouten
Minahasan Metamorphoses: Leadership and social mobility in a Southeast Asian society, c. 1680-1983
Disertasi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1993
Metamorfosa Minahasa: Kepemimpinan dan mobilitas sosial masyarakat Asia Tenggara, 1680-1983.
Mieke Schouten menfokuskan studi antropologis-historisnya pada perubahan kultural yang terjadi di Minahasa pada masa antara tahun 1680 dan 1983. Dengan menggunakan istilah “metamorfosa” pada judulnya, Schouten membuktikan bahwa di Minahasa, perubahan ekonomi, politik dan religius tetap diikuti oleh pola-pola dari masa lampau. Praktik-praktik kekristenan, misalnya, tetap tidak terlepas dari pola-pola ritual dan struktur agama primer. Selain itu, betapa pun struktur birokratis negara modern mewarnai konstelasi politik, pola kepemimpinan tradisional masih menguasai struktur desa.
Disertasi dari Mieke Schouten ini merupakan perpaduan menarik antara dokumentasi dan analisis. Buku setebal 340 halaman ini bahkan bisa menjadi dasar untuk banyak penelitian baru, misalnya mengenai konsep kekuasaan dalam budaya-budaya di Minahasa atau mengenai perempuan Minahasa. Dalam hal studi tentang Minahasa, Mieke Schouten memang bukan orang baru. Tesis MA-nya di Vrije Universiteit, Amsterdam, pada tahun 1978 sudah mengambil tema perubahan posisi kepala walak di Minahasa pada abad ke-19 (“De veranderende positie van het walak-hoofdt in de Minahasa gedurende de negentiende eeuw”). Sejak itu Mieke Schouten sebenarnya telah mulai memantapkan dirinya sebagai salah seorang nara sumber mengenai Minahasa, terutama lewat tulisan-tulisannya. Ia termasuk salah satu penulis asing yang sangat produktif menulis tentang Minahasa.
Menno Hekker
Minahassers in Indonesië en Nederland: migratie en cultuurverandering
Disertasi Universiteit van Amsterdam, 1993
Orang Minahasa di Indonesia dan Belanda: migrasi dan perubahan kebudayaan.
Dari judulnya saja sudah kelihatan arah penelitiannya adalah mengenai perubahan kultural pada kaum migran Minahasa di Negeri Belanda. Menno Hekker mengklasifikasi studinya sebagai ethnografi. Studinya sendiri merupakan studi kasus terhadap satu kaum migran tertentu. Berdasarkan pendekatan perubahan kebudayaan Menno Hekker lalu membuat perbandingan antara orang Minahasa yang telah menetap di Negeri Belanda dengan mereka yang menetap di tanah Minahasa. Perubahan kultural yang terjadi pada kaum migran Minahasa disebutnya sebagai satu proses “folklorisering”. Proses ini terjadi akibat perubahan konteks di mana kebudayaan Minahasa itu dihidupi. Artinya, konteks asli budaya Minahasa telah diganti oleh konteks kehidupan sosial masyarakat Belanda, yang berakibat pada menghilangnya sejumlah unsur budaya. Namun demikian ada sejumlah kebiasaan dan unsur kultural yang terus dipelihara seperti pengucapan syukur, kumpulan, kunci tahun baru, acara pohon terang, maengket, kabasaran dan mapalus. Mapalus umumnya hanya berlangsung sebagai prinsip resiprositas di antara warga Minahasa di Nederland.
David H. Tulaar, ed.,
Opoisme: Teologi Orang Minahasa
Tomohon: LETAK, 1993
Dokumentasi satu proses diskusi bertemakan “opoisme” yang berlangsung lewat korespondensi tulisan maupun lewat seminar sejak tahun 1990 sampai 1993.
David H. Tulaar, ed.
Merunding-rundingkan Kerja Selamat: Buku Penghormatan Hari Jadi ke-60 Prof. Dr. W.A. Roeroe
Tomohon: LETAK, 1993
Festschrift untuk Pdt. W.A. Roeroe dan mengangkat tema-tema seperti pembangunan pedesaan, perempuan, gereja dan teologi di Minahasa.
F.S. Watuseke; D.E.F. Henley
C.C. Predigers Verhandeling over het plaatselijk bestuur en de huishouding van de Minahasa in 1804 -357-385 h.
1994 - Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde" ; 150
Kata kunci: pelayanan sipil, adat dan tradisi, sumber-sumber dokumentasi, abad ke-19, sulawesi, indonesia
Helmut Buchholt dan Ulrich Mai, eds.
Continuity, Change and Aspirations: Social and Cultural Life in Minahasa, Indonesia
Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1994
Kelanjutan, Perubahan dan Aspirasi: Kehidupan Sosial dan Kultural di Minahasa, Indonesia
Memuat sebelas tulisan dari berbagai penulis, di luar bagian introduksi, yang sebenarnya mengisi tiga bagian buku ini.
Bagian pertama, mencakup tiga tulisan, menyentuh aspek-aspek sosial-historis dan kultural pembangunan di Minahasa.
Bagian kedua mengangkat secara khusus aspek politik lokal dan diferensiasi sosial. Lima tulisan mengisi bagian ini.
Bagian ketiga mengisi tiga tulisan yang berkaitan dengan aspek-aspek ideologis dan ekonomis dari pembangunan wilayah.
Sebagian besar isi buku ini merupakan tuangan hasil kajian oleh lima peneliti Jerman dari Universitas Bielefeld. Penting dicatat, sejak tahun 1980-an Universitas Bielefeld merupakan univeritas Jerman yang banyak memberi perhatian pada penelitian-penelitian di Minahasa.
Juga hubungannya dengan pusat penelitian UNSRAT Manado sangat erat. Kemudian ada satu kontribusi dari Mieke Schouten kalangan elit lama dan baru di Sonder. Dua tulisan lainnya berasal dari para peneliti di UNSRAT. Satu tulisan mengenai peranan perempuan Minahasa di pedesaan ditulis bersama oleh Wiesje Lalamentik, Alex Ulaen dan Justus Inkiriwang. Satu tulisan lagi mengenai pola-pola pemberdayaan dan peran tenaga kerja sektor non-pertanian di pedesaan Sulawesi Utara dikerjakan oleh Lucky Sondakh.
M.J.C. Schouten
Old and new élite in a village of Sonder   
Singapore: Institute of Southeast Asian Studies 1994
Elite lama dan baru di desa Sonder
R. Schefold
Minahasa past and present; tradition and transition in an outer island region of Indonesia, pp. 7-21   
Leiden: Research School CNWS 1995
Minahasa masa lalu dan sekarang; tradisi dan transisi
M.J.C. Schouten
Wa'ilan and boss: Status seeking in Minahasa   
Leiden: Research School CNWS 1995
Wa'ilan dan boss: Mencari status di Minahasa
David E.F. Henley
Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies
Leiden: KITLV, 1996
Dalam bentuknya yang belum direvisi, isi buku ini sudah diajukan oleh penulisnya sebagai disertasi Ph.D. pada Australian National University pada tahun 1992. David Henley sendiri berkebangsaan Inggris. Buku ini pada hakekatnya meneliti perkembangan nasionalisme regional yang bertumbuh di Minahasa pada zaman Hindia-Belanda hingga tahun 1942. Ia juga melakukan analisis yang dalam tentang pengertian “bangsa Minahasa”. Baik perdebatan politik dalam Minahasarad maupun sejarah kelahiran organisasi-organisasi politik orang Minahasa turut terdokumentasi dalam karya ini.
Yuniawati Umar
Korelasi Waruga dan Lumpang Batu. Suatu Studi Awal dan Studi Kasus di Minahasa. Seminar Prasejarah Indonesia I. Yogyakarta.
Dwi Yani, 1996
Gerry van Klinken / Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu Langie
Richard Wagner and Minahasa's past - 187-193 p
1998 - Kabar seberang - Yayasan Soekarno monograph series; 28/29 2
Daya tarik tetap : tulisan tentan Indonesia dan Selatan Barat Pacific untuk menghormat Bob Hering / ed. oleh Harry A. Poeze dan Antoinette Liem
Kata kunci: biografi, literatur indonesian, abad ke-20, sulawesi, indonesia
Herman Carel Waworuntu dan (1)Tolang Sara Rengkoeng, (2)Maria Tenden dan (3)Tewik
Silsilah Keturunan   
Pinaesaan Ne Keluarga Besar Waworuntu, Jakarta 2001
Silsilah Keturunan Waworuntu, Rengkoeng, Tenden, Tewik. Silsilah Keturunan ini mempunayi lebih dari 2200 personalia.
M.J.C. Schouten
Manifold connections: the Minahasa region in Indonesia   
South East Asia Research - London 2004
Hubungan beraneka: Daerah Minahasa di Indonesia
S. Pangemanan cs.
North Sulawesi Textiles and the revival of the Bentenan Cloth (article)   
Wastraprema, the Indonesian Traditional Textile Society, Jakarta - December 2004 (direncanakan)
Tentang Tenunan Traditional di Sulawesi Utara
Jan F. Menayang
Kamus: Melayu Manado - Indonesia / Indonesia - Melayu Manado   
IPCOS Jakarta, Dec. 2004 (direncanakan)
Kata Kunci: Kamus
Muskens, Dr M.P.M.
Sejarah Gereja Katolik Indonesia I: Misi di Sulawesi-Utara   
????
Kata Kunci: Gereja
I.W. Palit
Sejarah Manusia Pertama di Minahasa
Buku kecil stensilan tanpa tahun
Pada Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Tomohon pada tahun 1980 buku stensilan ini diedarkan kepada para peserta sidang.
http://www.theminahasa.net/literature/indexid.html

1 komentar: